Selasa, 25 November 2014

Kembalinya Seorang Sahabat


Jam menunjukkan pukul 06:00 wib pagi, alhamdulillah selesai juga. Kataku sambil merenggangkan tubuhku, setelah selesai belajar diniyah pagi. Aku adalah seorang santri di sebuah pondok pesantren di daerah jawa timur, pesantren yang sudah cukup terkenal di desa-ku mojokerto. Sebelum belajar di pesantren itu kami diasingkan di sebuah daerah terpencil di daerah gersik. Disana aku mengalami suka, duka, sedih, gembira, dan berbagai dan berbagai perasaan lainnya.

Ada sebuah cerita sedih yang menyelimuti kami yang terjadi beberapa bulan yang lalu. Ceritanya begini:
Pagi itu, seperti biasa selesai belajar diniyah kami bersiap-siap pergi ke danau yang jarakanya tidak jauh dari lokasi pesantren, disana kami biasanya mandi, soalnya sekarang lagi musim kemarau jadi selain air sumur pada kering ada sesuatu yang istimewa di danau itu sehingga membuat kami berlomba-lomba tuk pergi kesana, yaitu danau terletak di tengah-tengah kebun mangga. Jadi setiap hari kami berlomba-lomba berburu mangga baik yang jatuh maupun yang masih di tangkainya.
Kami semuanya saling berlomba kesana sambil membawa pisau, parang dan lainnya hanya untuk mengupas kulit mangga dan tak jarang setiap pulang kami membawa sekantong plastik mangga untuk dimakan di kamar.
Sebelum kesini, sebenarnya berjumlah enam puluh siswa, karena berbagai seleksi dengan berbagai keadaan keadaan disana sehingga banyak di antara kami banyak yang keluar karena tidak tahan tinggal 20 siswa. hari demi hari kami lalui bersama, makan bersama, tidur bersama dan belajar bersama. Satu dengan yang lainnya saling mengisi ibarat sebuah rumah yang terdiri dari batu, kayu, pasir dan semen yang tiap dari bagiannya saling melengkapi. Ada satu orang di antara kami yang menjadi inspirasi bagi kami semua. Namanya ihsan, dia berasal dari solo. Dia adalah anak yang raji, tekun dan tidak pernah mengeluh atas segala cobaan yang ada. Yang membuat kami semua kagum adalah semangatnya yang tinggi untuk belajar. Ketika di dalam kelas dia selalu duduk di depan dan ketika belajar dia selalu yang pertama dari pada yang lain. Aku berusaha untuk menyainginya, tetapi selalu saja gagal.
Pernah suatu ketika, ketika aku terbangun di tengah malam untuk pergi ke kamar mandi. Aku melihat ada satu kamar yang tidak dimatikan lampunya padahal semua lampu sudah pada mati, aku berjalan mengendap-endap dan kubuka sedikit pintunya, aku lihat ihsan lagi belajar, mengulangi hafalanya dan mengingat pelajaran pelajaran yang tadi telah dipelajari, padahal semua teman kamarnya telah terlelap di atas kasur yang empuk dalam dekapan selimut yang membuat setiap mata terjatuh diatasnya.
Setelah selesai belajar tidak lupa ia shalat tahajud dan memohon kepada Allah agar dimudahkan dalam belajar dan dijauhkan dari sifat malas “subhanallah”, kataku. Tidak pernah tergambar dalam pikiranku tuk melaksanakan seperti apa yang ia lakukan.
Sampai akhirnya tibalah waktunya liburan semester 1, banyak di antara kami kembali ke kampung halamannya, termasuk ihsan. Aku dan seorang temanku tetap tinggal di pesantren, mengurusi dan menjaga pesantren dan ada juga yang menjadi UPZ, selama satu bulan lamanya.
Akhirnya liburan pun selesai, aku sudah tidak sabar lagi untuk bertemu dengan teman-temanku, dan melihat oleh-oleh apa yang mereka bawa sekembalinya dari kampung. “wah, tak sabar lagi aku menunggu mereka “, kataku dalam hati dan benarlah, satu persatu dari mereka datang, sampai akhirnya hanya ihsan yang belum datang.
Sehari, dua hari, tiga hari dan seminggu ihsan tidak datang juga, kami semua harap-harap cemas atas kedatangannya sampai hari kelima belas dia datang, tetapi wajahnya berbeda dari sebelumnya. Ketika kami tanya. “Ada apa san. Kok lama datang?” dia tidak menjawab sama sekali.
Sampai akhirnya kami tau, bahwa ayahnya terkena kanker otak dan sekarang memasuki masa akut tidak tau apa yang harus kami lakukan, kami hanya bisa menghiburnya dan berdoa semoga ayahnya cepat sembuh.
Pada tanggal 13 september, tepatnya 3 minggu setelah liburan terdengar berita duka dari solo, bahwa ayahnya ihsan telah meninggal dunia, perasaan sedih menyelimuti kami semua canda dan tawa kami berubah menjadi sedih dan pilu. Aku tidak tau bagaimana perasaannya terhadap kejadian itu. Dia jadi sering menyendiri dan melamun.
Sampai akhirnya, dia meminta izin kepada ustaz untuk pergi melihat pekuburan ayahnya. Dia pergi dengan sejumlah besar pakaiannya di dalam sebuah koper hitam bermerek polo.
Setelah itu, satu, dua minggu kami menunggunya dia tidak datang juga sampai akhirnya sebulan pun berlalu. Kami semua pasrah bahwa dia tidak kembali lagi kesini, tetapi aku tidak yakin pasti dia akan kembali. satu, dua hari kutunggu dia tidak ada juga. Minggu pertama tidak ada juga, minggu kedua pun sama. Hatiku pun mulai goyah, “akankah dia datang” pikirku. Tiba-tiba mataku tertuju pada sesosok bayangan manusia yang sedang menggendong koper besar di tangan kanannya di tengah terik matahari yang menyengat, aku pun berteriak, “itu ihsan.. itu ihsan, dia kembali”.
Kami semua pun keluar untuk menyambutnya. Tak kusangka hari ini adalah hari yang paling membahagiakan bagi kami semua, kami kira kami akan kehilangan seorang sahabat yang menjadi inspirator bagi kami semua.
sumber di sini

0 komentar:

Posting Komentar